Klik Tentang K9Dewa dan K9Link-Info

▼

Berhenti dan Jongkok: Pelajaran Berharga dari Seorang Pekerja Bangunan yang Dikejar Herder


K9DeWa — Sebuah peristiwa sederhana, namun sarat makna, terjadi beberapa tahun silam di kawasan Medokan Asri Tengah, Medokan Ayu, Rungkut, Surabaya. Tepatnya di sekitar kediaman Almarhum Bapak Damianus Wera.

Almarhum akrab disapa Om Dami—dikenal sebagai seorang ahli pengobatan alternatif dengan metode penyembuhan unik, termasuk praktik operasi gaib. Ia juga merupakan tokoh dan penggerak di dunia tinju Indonesia. 

Kisah yang terjadi sekitar tahun 2013–2014 ini bukan sekadar cerita lucu, melainkan sebuah pelajaran tentang ketenangan, kewaspadaan, dan hikmah yang bisa dipetik dari hal-hal tak terduga.

Alkisah, seorang pekerja bangunan tengah berjalan memikul cangkul dan sekop. 

Tanpa diduga, seekor anjing herder jantan milik Om Dami melihat sosok tak dikenal itu dan langsung melesat menerobos pintu, mengejarnya dengan penuh semangat. 

Si herder begitu bernafsu mengejar, mengingat halaman depan rumah bosnya adalah kawasan teritorial yang ia jaga.

Dalam kepanikan, sang pekerja teringat pesan seorang teman dari desa: "Kalau dikejar anjing, jangan lari. Langsung ndoprox—jongkok saja. Aman."

Tanpa ragu, ia pun langsung jongkok, melepaskan barang bawaannya, dan menutup mata dengan kedua telapak tangan. Tubuhnya gemetar hebat. 

Sangat kelihatan tampak pasrah. Tak terlihat persiapan bela diri, yang disertai niat jahat. Misalnya gerakan menendang atau apapun.

Yang terjadi kemudian sungguh di luar dugaan. Si herder justru berhenti, lalu ikut jongkok di samping pekerja tersebut. 

Ketika dipanggil pemiliknya, anjing itu bahkan tidak menghiraukan—malah bergeser ke depan hingga berhadapan dengan pekerja yang masih menutup mata. 

Anjing berusia sekitar satu tahun itu ternyata, sebagaimana kebanyakan hanya ingin tahu. Gestur tubuh pekerja yang tidak mengancam membuat si herder tidak melakukan tindakan defensif apa pun.

Saya sendiri—penulis artikel ini—adalah saksi yang kebetulan berada di lokasi saat kejadian berlangsung. Tempat tinggal kami tidak berjauhan. Kejadian di Medokan Asri Tengah, dan tempat tinggal kami di Medokan Asri Utara. Kesana dalam rangka "dolan".

Kebetulan saya sudah mengenal anjing tersebut. Ia merupakan peranakan dari anjing saya sendiri (diambil almarhum saat berusia 5 bulan). Saya pun mendekatinya, mengaitkan tali ke kalungnya, dan mengajaknya masuk.

Saat itu pula terlihat celana pendek pekerja tersebut basah. Saking takutnya, ia sampai terkencing-kencing dan tetap menutup matanya.

Mengetahui kejadian itu, Bapak Damianus memberikan apresiasi uang sebesar Rp300 ribu dan memohon maaf atas ketakutan yang dialami pekerja tersebut.


Hikmah yang Bisa Dipetik


1. Ketenangan mengalahkan kepanikan.

Sang pekerja membuktikan bahwa berhenti dan tidak melarikan diri adalah pilihan yang tepat. 

Kepanikan sering kali memperburuk situasi, sementara ketenangan membuka jalan keselamatan.

2. Ilmu dari orang lain sungguh berharga.

Wejangan sederhana dari seorang teman di desa ternyata menyelamatkan sang pekerja dari kemungkinan terburuk. 

Belajar dari pengalaman orang lain adalah investasi kebijaksanaan.

3. Niat baik melahirkan kebaikan.

Almarhum Bapak Damianus tidak hanya meminta maaf, tetapi juga memberikan apresiasi. 

Sikap tanggung jawab dan empati seperti ini patut diteladani.

4. Ketakutan itu manusiawi, tetapi respons kita yang menentukan.

Wajar jika sang pekerja gemetar hingga terkencing. 

Namun yang membedakan adalah keputusannya untuk tetap tenang dan mengikuti panduan yang ia yakini.


Kisah ini mengingatkan kita: dalam setiap tekanan hidup, kadang kita hanya perlu berhenti sejenak, jongkok, dan bernapas—bukan melarikan diri. Sebab sering kali, "anjing" yang mengejar kita hanyalah ujian yang ingin tahu seberapa tenang kita menghadapinya.


Artikel lain terkait: