Herder yang Terlalu Terikat: Pedang Bermata Dua (Pengalaman Pribadi)

Media Farica Diva (Rena) dengan sahabat nya 2008

K9DeWa - Ada pepatah yang mengatakan bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ternyata hal ini juga berlaku dalam hubungan antara hewan peliharaan dan tuannya.

Herder yang terlalu terikat pada satu orang bisa menjadi pedang bermata dua — menguntungkan sekaligus berpotensi membahayakan. Itulah yang saya alami pada tahun 2008.

Awal Ikatan yang Istimewa
Pengalaman itu sungguh tak terlupakan. Saat itu, saya seharusnya lebih waspada, namun entah mengapa, saya begitu saja percaya.

Semua bermula dari herder jantan kami yang sangat akrab dengan putri Ragil, bernama Media Farica Diva, dengan panggilan Rena.

Sejak Rena mulai bisa duduk sendiri, ia selalu bermain dengan si herder. Anjing itu diperlakukan apa pun tidak berontak atau lari — selalu setia berada di dekatnya.

Hanya satu hal yang sering saya ingatkan kepada Rena: jangan menarik ekor, telinga, atau bagian tubuh lainnya. Namun, sebagai anak kecil, larangan itu tetap saja dilanggarnya.

Media Setya Dewi (Tya) kakak Rena, yang pernah terjatuh ditabrak Herder, karena menjahili sang adik.

Kebiasaan yang Mengakar
Memasuki usia sekolah TK, kebiasaan itu semakin kuat. Sepulang sekolah, masih dengan seragam yang melekat, Rena pasti menghampiri si herder terlebih dahulu.

Bahkan karena kebiasaan ini, ketika pulang sekolah tidak dihampiri, si herder "gedobrakan" di kandang — sebuah tanda kecemasan yang berlebihan.

Saya sudah berulang kali berpesan, "Kalau pulang sekolah, ganti baju dulu sebelum nyamperin herder." Namun aturan itu hanya berlaku ketika ada saya. Bila tidak ada, tetap saja dilanggar.

Proteksi yang Berlebihan
Herder itu tampaknya semakin menyayangi anak ini. Ketika Rena dimarahi Mamanya, si herder datang menghalangi.

Karena begitu takutnya saya akan potensi bahaya, saya mewajibkan si herder dimasukkan ke kandang saat ada tamu atau teman sekolah Rena.

Dengan begitu, si herder cukup memperhatikan dari kandang, dan tidak ada risiko yang membahayakan.

Namun, pernah suatu kejadian yang membuat saya semakin waspada. Kakaknya ditabrak oleh si herder hingga jatuh.

Itu terjadi karena si herder melihat sang kakak menjahili adiknya, Rena. Anjing itu seolah mengambil peran sebagai "penegak keadilan" dengan caranya sendiri.

Sang kakak dengan Golden Retriever yang sering di ajak jalan. Sang kakak pernah ditabrak Herder, kala menjahili adiknya.

Refleksi dan Penilaian
Dari kejadian ini, saya menilai bahwa keputusan-keputusan yang saya ambil tidaklah salah:

✓ Memasukkan herder ke kandang saat ada tamu — Herder memang dikenal sangat protektif, dan proteksi berlebihan bisa berubah menjadi agresi jika tidak dikelola dengan baik.

✓ Aturan "ganti baju dulu sebelum nyamperin herder" — Keputusan ini sekaligus melatih kedisiplinan, meski si kecil belum sepenuhnya patuh.

Namun, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai:

⚠️ Herder yang "menghalangi" saat Mama memarahi anak — Ini tanda dia menganggap dirinya pelindung anak tersebut, bahkan terhadap anggota keluarga lain. Ini bisa menjadi masalah hierarki dalam keluarga.

⚠️ Kejadian kakak ditabrak — Ini menunjukkan herder sudah mengambil peran "penegak keadilan" sendiri. Berisiko karena anjing tidak bisa menilai situasi seperti manusia. 

Si herder perlu ditanamkan pengertian tentang "guyon" dan "kejahatan". Masih bersyukur, si herder tidak membalasnya dengan gigitan.

⚠️ Herder yang "gedobrakan" kandang — Ini menunjukkan kecemasan berlebihan (separation anxiety) terhadap anak itu. Ketika si Rena sudah tampak, si herder seperti merasa lega dan diam.

Si Herder sahabat Rena ketika bertugas siaga di kennel

Pelajaran yang Bisa Diambil
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa:
· Herder perlu dilatih patuh pada semua anggota keluarga, bukan hanya si Rena.

· Herder butuh sosialisasi terkontrol dengan tamu, bukan hanya dikandangkan terus — ini bisa memicu stres. Nyatanya hanya dilepas bebas ketika ada saya.

· Herder perlu sosialisasi untuk mengelola sifat protektifnya, terutama karena ada anak kecil di rumah.

· Bersyukur si Rena selalu saya ajarkan tetap menghormati anjing (tidak menarik ekor, telinga, dll). Maka kalaupun melanggar, mungkin karena "gemes", dan tidak nampak marah. Herder pun tak membalasnya.

Ketika siaga dan mengantuk di tempat sederhana ini Herder sahabat Rena menidurkan dirinya.

Pesan Utama
Pengalaman ini memang tak terlupakan, tapi bagi siapa pun perlu kewaspadaan. Herder yang terlalu terikat pada satu orang bisa menjadi pedang bermata dua — di satu sisi menunjukkan kesetiaan yang luar biasa, di sisi lain menyimpan potensi bahaya yang harus dikelola dengan bijak.

Satu hal yang bisa saya tarik, dari pernah mendekatkan anak dengan hewan, sang putri menjadi sosok yang sayang binatang.

Bahkan, ketika saya memelihara 30 herder di tempat khusus, ketika Rena ikut menyambangi, semua herder patuh dengannya.

Semoga pembaca tetap aman dan bahagia ya. 

Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi tahun 2008