Ilustrasi dari InfoCimahi
K9DeWa - Kasus pitbull yang menyerang anak di Bandung menjadi pengingat bagi kita semua. Memiliki anjing berenergi tinggi adalah komitmen besar, bukan sekadar hobi. Keselamatan bersama harus menjadi prioritas utama.
Saya menuliskan ini sebagai jawaban atas rasa penasaran dari teman-teman—baik dari Facebook, Instagram, maupun rekan sekolah—yang bertanya langsung lewat WhatsApp.
Mereka semua tampak heran dan bertanya-tanya, apa sebenarnya yang menyebabkan insiden naas tersebut bisa menimpa korban.
Saya tidak ingin berkomentar terburu-buru karena banyak hal perlu dicermati.
Memahami karakteristik anjing dan faktor pemicu perilakunya sangat penting.
Pengalaman saya lebih dekat dengan Gembala Jerman (Herder). Namun kasus di Bandung menunjukkan agresivitas tidak bisa hanya dilihat dari ras.
Faktor penentu utamanya adalah kepemilikan dan pengelolaan yang bertanggung jawab.
Kelalaian pemiliklah yang sering menjadi akar masalah, bukan semata-mata jenis anjingnya.
Fakta Kunci Kasus
Peristiwa itu terjadi di Kompleks Grand Cendana Residence, Kecamatan Arjasari, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 23 Agustus 2026.
Anjing itu lepas karena rantai dan patok jebol saat dijemur. Ia menyerang bocah 9 tahun di perumahan hingga telinganya robek dan harus dioperasi.
Akar masalahnya adalah pengikatan yang tidak memadai. Anjing bisa lepas ke area publik yang seharusnya aman bagi warga, terutama anak-anak.
Hukum dan Tanggung Jawab
Pemilik dapat dijerat Pasal 474 KUHP tentang kelalaian yang menyebabkan luka. Ancaman pidana penjara bisa mencapai 5 tahun jika menyebabkan kematian.
Beberapa daerah menerapkan aturan ketat, seperti kandang wajib dan denda besar. Ini mencerminkan kesadaran hukum yang semakin meningkat.
Pitbull vs Herder
Pengalaman dengan 34 Herder memberi saya perspektif penting. Herder juga berbahaya jika tidak terlatih dengan baik.
Pitbull dibiakkan untuk kekuatan dan ketangkasan, awalnya untuk petarung. Herder dibiakkan untuk menggiring dan bekerja sama dengan manusia.
Jika tujuan awal pitbull tidak disalurkan benar, konsekuensi kesalahan kepemilikan lebih fatal.
Keduanya tetap butuh sosialisasi dini, pelatihan konsisten, dan stimulasi mental.
Tanpa itu, keduanya berpotensi menunjukkan perilaku agresif atau destruktif.
Perlu Dipahami
Kasus ini lebih tepat disebut kelalaian pemilik, bukan semata "serangan pitbull".
Komunitas pitbull di Bandung pun menekankan pentingnya manajemen yang baik.
Karakter anjing sangat dipengaruhi cara pengendalian pemiliknya.
Herder terlatih bisa jadi sahabat keluarga. Pitbull yang dikelola benar juga bisa tenang.
Ini pengingat bagi kita semua. Memiliki anjing berenergi tinggi adalah komitmen besar. Keselamatan bersama dimulai dari pemilik yang bertanggung jawab.
Selanjutnya, melalui weblog ini akan kami sajikan sejumlah tulisan, di antaranya membahas tentang kewaspadaan yang perlu diperhatikan ketika bertemu anjing liar di jalanan.
Juga hal-hal yang memicu anjing menyerang. Silahkan klik "Ketakutan Adalah Pemicu: Mengapa Anjing Bisa Menyerang Justru Saat Kita Paling Takut?"
Oleh : Priono Subardan
