K9DeWa - Bayangkan Anda sedang berdiri dengan tenang, tiba-tiba sebuah benda besar meluncur cepat dari atas menuju kepala Anda—tanpa peringatan, tanpa suara, tanpa isyarat sama sekali. Apakah Anda tidak akan terkejut? Bukankah refleks pertama Anda adalah mengelak, menangkis, atau bahkan melarikan diri?
Anjing merasakan hal yang persis sama. Hanya saja, ketika anjing merasa terancam, ia tidak memiliki pilihan selain menggunakan satu-satunya senjata yang dimiliki: gigitan.
Itu adalah bentuk pertahanan diri yang murni naluriah. Bukan karena jahat atau agresif.
Lalu, bagaimana cara yang benar?
Selalu julurkan tangan dari samping bawah, sejajar dengan dagu atau dadanya, dengan punggung tangan menghadap ke atas.
Gerakan harus pelan, lembut, dan tidak tiba-tiba. Biarkan anjing mencium tangan Anda terlebih dahulu—baginya, itu adalah "jabat tangan" dalam bahasa dunia hewan.
Jika si anjing mendekat dan mengendus dengan santai, tanpa ketegangan di tubuhnya, barulah boleh mengelus bagian dada atau samping lehernya—bukan ubun-ubun kepala.
Mengapa gerakan dari atas dianggap serangan predator?
Pertama, secara naluriah, anjing adalah hewan yang sangat peka terhadap gerakan dari atas.
Di alam liar, serangan predator seperti burung pemangsa atau hewan buas yang lebih besar selalu datang dari arah atas menuju bawah.
Insting ini telah tertanam kuat pada anjing domestik selama ribuan tahun evolusi.
Kedua, saat tangan kita turun dari atas kepalanya, anjing tidak bisa melihat dengan jelas apa yang datang.
Bayangan yang tiba-tiba menutupi pandangannya memicu respons fight or flight.
Itu karena dalam banyak situasi ia tidak bisa lari (misalnya karena terikat tali atau berada di dekat pemiliknya), maka ia cenderung memilih bertahan—dengan menggigit.
Ketiga, posisi tangan di atas kepala juga dianggap sebagai gerakan dominasi yang mengancam.
Anjing asing tidak mengenal kita. Ia tidak bisa membedakan antara tangan yang hendak mengelus dan tangan yang hendak memukul. Yang ia rasakan hanyalah satu hal: ancaman.
Dampak dari gerakan mengagetkan itu:
· Anjing yang tadinya tenang bisa langsung menggigit secara refleks.
· Anjing yang sudah cemas akan panik dan menyerang untuk melindungi diri.
· Bahkan anjing yang dikenal ramah pun bisa terkejut dan bereaksi agresif jika gerakan dari atas terlalu cepat dan tidak terduga.
Analogi sederhana
Seperti halnya ketika kita menemukan ulat.
Jika ulat itu langsung kita sodorkan ke wajah seseorang—baik itu kekasih, teman, atau siapa pun—reaksi refleksnya pasti negatif: jijik, mual, merinding, atau bahkan melempar benda yang ada di tangannya. Bisa kotor, busuk, atau tidak menyenangkan.
Bayangkan jika orang yang kita sodori ulat itu sedang memegang panci berisi air mendidih. Bisa dipastikan panci itu akan melayang ke arah kita.
Tapi, jika kita letakkan ulat itu di atas meja, dan membiarkan teman kita mendekat serta melihatnya sendiri dengan tenang, maka semuanya akan aman.
Intinya:
Tangan dari atas = ancaman predator di mata anjing.
Hormati sudut pandangnya. Dekati dari samping bawah, perlahan, dan biarkan si anjing yang memutuskan apakah ia mau berkenalan dengan Anda.
Jika si anjing menghindar, menjauh, atau menunjukkan tanda-tanda tidak nyaman—itu adalah jawaban "tidak" yang harus kita hargai.
Wajib dipahami, pada akhirnya, hubungan baik dengan makhluk hidup lain selalu dibangun atas dasar saling menghormati, bukan memaksa.
Ingat: Bukan anjing yang harus belajar memahami kita. Kitalah yang harus belajar memahami bahasa tubuh mereka.
Oleh : Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di k9Dewa
Artikel ini adalah bagian dari program #k9DewaEdisiBerbagi untuk meningkatkan kualitas hidup hewan kesayangan.

.jpg)
