BUKAN HAL ANEH bila menemui anak balita dan anjing ras besar terlihat akrab, bahkan bak “saling bicara”. Hal itu terjadi karena komunikasi non-verbal mereka sinkron—bukan karena mengerti bahasa lisan satu sama lain.
Hal itu mudah ditemukan di kawasan-kawasan yang melarang atau tidak mengijinkan anak balita bermain di luar rumah.
Dalam pada itu, anak balita bermain dengan rekan seumuran nya juga selayaknya diawasi. Dikhawatirkan di antaranya ada yang suka "gemes", dan membahayakan.
Fenomena ini muncul karena anak-anak dan anjing sama-sama mengandalkan bahasa tubuh serta intonasi suara, bukan kata-kata.
Anak kecil belum sepenuhnya terikat pada bahasa verbal, sehingga ia lebih alami membaca gestur, ekspresi wajah, dan nada suara—persis seperti yang dilakukan anjing.
Sementara itu, anjing sendiri sangat peka terhadap isyarat sosial manusia, hasil dari ribuan tahun domestikasi.
Saat mereka tampak “saling bicara”, sebenarnya yang terjadi adalah:
· Anjing merespons gerakan tangan, arah pandang, dan energi anak.
· Anak merespons ekor yang bergoyang, gonggongan kecil, atau postur tubuh anjing yang mengajak bermain (play bow).
· Keduanya menciptakan umpan balik berulang yang mirip seperti percakapan: satu memberi isyarat, yang lain membalas, lalu bergantian.
Catatan : persahabatan mereka ini bakal kian erat, bila si bocah tidak agresif. Juga tidak suka "gemes". Tidak menarik-narik bagian sensitif anjing, yang di antaranya kurang menyukai bila telinga atau ekor ditarik.
Maka disarankan lebih baik didampingi oleh seseorang yang memahami, sekalian mengenalkan sayang dengan hewan.
Oleh: Priono Subardan
Praktisi & Pembuat Konten di k9Dewa
Artikel ini adalah bagian dari program #k9DewaEdisiBerbagi untuk meningkatkan kualitas hidup anjing kesayangan.